PENINGKATAN KEANEKARAGAMAN HAYATI PT PERTAMINA PATRA NIAGA INTEGRATED TERMINAL TELUK KABUNG 2026
KEBERHASILAN PROGRAM PERLINDUNGAN
HAYATI
PT PERTAMINA PATRA NIAGA
INTEGRATED TERMINAL TELUK KABUNG
1. PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Teluk Kabung telah menjalankan Program Keanekaragaman Hayati berupa Transplantasi Terumbu Karang debgan Metode ARC (Artificial Reef from Concrete) dan Gerakan Mangrove Lestari dengan Pendekatan Kolaborasi Aktif. Berikut merupakan Peningkatan Status Keanekaragaman Hayati dari tahun 2022-2026.
Tabel 1. Hasil Absolut Hayati

Secara
umum terjadi peningkatan nilai indeks keanekaragaman hayati di seluruh area
konservasi PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Teluk Kabung. Semakin
baiknya upaya perlindungan keanekaragaman hayati PT Pertamina Patra Niaga
Integrated Terminal Teluk Kabung dapat diketahui dari grafik peningkatan nilai
absolut program perlindungan keanekaragaman hayati berikut:
Gambar 1. Kecenderungan Absolut Program Perlindungan Keanekaragaman
Hayati

2.
Metode
Perhitungan Indeks Keanekaragaman Hayati
Nilai
indeks keanekaragaman hayati dihitung menggunakan indeks “Shannon-Wiener” yaitu
dengan menggunakan rumus:

Keterangan:
|
H’ |
: |
Indeks keanekaragaman
hayati |
|
Pi |
: |
Proporsi atau nilai perbandingan
antara jumlah individu suatu spesies |
|
Ni |
: |
Jumlah individu
spesies |
|
N |
: |
Jumlah individu semua spesies |
Dengan kriteria indeks (H’) sebagai
berikut:
|
H’ < 1 |
: |
Keanekaragaman jenis
rendah |
|
1 ≤ H’ ≤ 3 |
: |
Keanekaragaman jenis
sedang |
|
H’ > 3 |
: |
Keanekaragaman jenis
tinggi |
3.
Bukti
Perhitungan Data Absolut Program Perlindungan Keanekaragaman Hayati
3.1. Program Transplantasi Terumbu
Karang dengan Metode ARC (Artificial Reef from Concrete)
a.
Deskripsi
Program
Terumbu karang merupakan ekosistem
unik yang memiliki nilai yang sangat tinggi baik dari segi ekologis maupun dari
sisi ekonomi. Di dalamnya hidup beranekaragam biota laut yang saling
berinteraksi membentuk suatu ekosistem. Tingginya nilai yang dimiliki oleh
terumbu karang tidak serta-merta membuatnya aman dari berbagai faktor
kerusakan, baik disebabkan oleh alam maupun manusia yang dampaknya lebih besar.
Fenomena alam yang cukup menganggu ekosistem terumbu karang yaitu pemutihan
terumbu karang atau coral bleaching, di mana perubahan warna pada
jaringan karang dari yang semula berwarna kecoklatan atau kehijauan berubah
menjadi putih pucat. Coral bleaching merupakan peristiwa lepasnya alga
yang bersimbiosis (zooxanthela) yang merupakan tempat bergantungnya
polip karang untuk mendapatkan makanan. Kerusakan terumbu karang yang
disebabkan oleh manusia terjadi karena banyaknya terjadi penangkapan ikan
dengan menggunakan bahan peledak, penggunaan sianida (potas),
penambangan batu karang yang digunakan untuk bahan bangunan.
Program Rehabilitasi
Terumbu Karang dengan Metode ARC (Artificial Reef from Concrete)
merupakan bagian dari program keanekaragaman hayati yang dilakukan oleh PT
Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Teluk Kabung. Rehabilitasi terumbu
karang merupakan upaya perbaikan terumbu karang untuk memulihkan dan mengembalikan fungsi
ekosistem terumbu karang yang rusak atau terdegradasi sehingga mengembalikan
fungsinya sebagai habitat alami bagi biota laut. Selain memberikan manfaat
ekologis, pemulihan terumbu karang juga berkontribusi terhadap peningkatan
produktivitas perikanan, perlindungan wilayah pesisir dari abrasi dan
gelombang, serta mendukung pengembangan ekowisata bahari yang berkelanjutan.
Gambar 2. Monitoring Penanaman Transplantasi Terumbu Karang


b.
Data
Pendukung
Berikut
merupakan jenis ikan karang yang muncul dan berada di lokasi Program
Transplantasi Terumbu Karang dengan metode ARC yaitu
Tabel 2. Jenis Ikan Karang 2020-2026


c.
Perhitungan
Shannon Indeks
Shannon
Indeks digunakan untuk mengukur tingkat keanekaragaman jenis atau biodiversitas
makhluk hidup di dalam suatu ekosistem. Program Transplantasi Terumbu Karang
dengan Metode ARC (Artificial Reef from Concrete) juga menghitung
Shannon Indeks untuk mengetahui tingkat biodiversitas di lokasi transplantasi
terumbu karang, dengan contoh dengan data 2026 sebagai berikut:
|
Ni |
: |
Jumlah
individu Ostracion cubicus |
: |
14 |
|
N |
: |
Jumlah
total semua spesies |
: |
1.359 |
|
Pi |
: |
Ni/N |
: |
0,0201 |
|
LN
Pi |
: |
LN
Pi |
: |
-3,9049 |
|
Pi
LN Pi |
: |
Pi
Ln Pi |
: |
-0,0787 |
|
H’ |
: |
-Σ
Pi Ln Pi |
: |
6,1218 |
Hasil
H’ yaitu angka 6,1218 merupakan hasil dari penjumlahan nilai dari 61 spesies
ikan karang. Angka ini menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati di Teluk Kabung
Selatan tinggi yang artinya ekosistem sangat stabil dan distribusi jumlah
individu tiap spesies merata. Adapun trend kecenderungan kenaikan Shannon
Indeks setiap tahunnya sebagai berikut:
Gambar 3. Grafik Kecenderungan Kenaikan Indeks
Keanekaragaman Hayati

d.
Tabel
Rekap Absolut Program Transplantasi Terumbu Karang dengan Metode ARC
(Artificial Reef from Concrete)
Gambar
4. Rekap Hasil Absolut Program Transplantasi Terumbu Karang dengan Metode ARC 2022-2026

Gambar
5. Trendline Jumlah Fauna Program Transplantasi Terumbu Karang dengan Metode ARC (Artificial
Reef from Concrete)

Gambar 6. Trendline Indeks Keanekaragaman Fauna Program Transplantasi Terumbu Karang dengan Metode ARC
(Artificial Reef from Concrete)

3.2. Program Gerakan
Mangrove Lestari dengan Pendekatan Kolaborasi Aktif
a.
Deskripsi
Program
Pada
saat ini diketahui bahwa luas hutan mangrove yang masih tersisa tinggal 60%
dari luas total hutan mangrove 5-9 tahun yang lalu. Pulau Sumatera hanya
menyisakan 11% hutan mangrovenya. Dari perhitungan tersebut berarti hutan
mangrove yang telah hilang sekitar 40% dan kemungkinan akan terus berkurang. Kegiatan
pembangunan memberikan sumbangan terbesar terhadap menurunnya luas areal
mangrove di Indonesia. Seiring dengan penebangan kayunya, lahan mangrove yang
telah habis kayunya dikonversi menjadi lahan-lahan tambak dan areal pertanian.
Ekosistem
hutan mangrove sebagai sistem penyangga kehidupan memiliki fungsi ekologis yang
sangat penting bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Keberadaan hutan
mangrove ini sangat penting, karena dapat menjadi penghalang dari serangan
ombak dan angin laut sehingga tidak berlebihan jika hutan mangrove merupakan
penyangga kehidupan manusia, terutama yang tinggal di sepanjang pantai.
Peristiwa tsunami pada tahun 2004 yang lalu memberi bukti nyata bahwa pada
daerah pantai yang mempunyai hutan mangrove yang lebat ternyata dampak
tsunaminya sangat minim atau relatif tidak membahayakan kehidupan masyarakat
pesisir pantainya.
Kondisi
hutan mangrove di Kota Padang pada beberapa tempat juga mengalami penurunan
luas, dan perlu untuk dilakukan rehabilitasi. Berdasarkan uraian tersebut
diatas, rehabilitasi hutan mangrove di lahan hutan yang mengalami degradasi mutlak
segera dilakukan. Sebagai langkah awal, dilakukan peninjauan lapangan untuk
menentukan hutan mangrove yang perlu direhabilitasi dalam waktu cepat karena
memiliki kerusakan yang cukup besar.
Gambar 7. Kegiatan Penanaman Mangrove

b.
Bukti
Perhitungan
Dalam
menghitung jumlah mangrove yang telah ditanam pada program ini menyesuaikan
dengan jumlah mangrove yang ditanam pada setiap kegiatannya.
c.
Tabel
Rekap Absolut
Gambar
8. Rekap Hasil Absolut Program Gerakan
Mangrove Lestari dengan Pendekatan
Kolaborasi Aktif 2022-2026

Gambar
9. Grafik Trendline Jumlah Flora Program
Gerakan Mangrove Lestari dengan Pendekatan Kolaborasi Aktif

Komentar
Posting Komentar